Pentingnya Belajar Tauhid

Begitu pentingnya tauhid sehingga Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan. Pada Adz Dzariyaat: 56, Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” serta perintah ini juga dimuat pada An Nisaa: 36, Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” Hingga kewajiban ini juga lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Apabila orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik, maka Allah memerintahkan anak untuk tidak menaati perintah tersebut yang termuat pada Luqman: 15.

Tauhid bukan hanya berarti mengucapkan لا اله الا الله saja, karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, sedangkan kaum musyrikin yang mengakui bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta pun juga ikut diperangi oleh Rasulullah  صلى ا لله عليه وسلم Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran juga, di antaranya adalah pada Yunus:31



قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”


Diriwayatkan oleh HR. Bukhari  dan Muslim mengenai penghuni surga sangatlah sedikit, salah satu faktornya adalah lemahnya landasan tauhid dari kebanyakan orang muslim, sebagaimana Rasulullah  صلى ا لله عليه وسلم bersabda:


“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu delegasi neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah itu delegasi neraka?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.”

Kalangan Muhajirin dan Anshor radhiyallahu ta’ala ‘anhum, para sahabat merupakan bukti nyata bahwa tauhid itu merupakan landasan penting sebagai salah satu kunci untuk dapat masuk surga. Para sahabat yang mendapat jaminan surga oleh Allah, mewujudkan tauhid sebagai ruh kehidupan mereka. Tauhid yang benar tertancap kuat menjadikan seluruh aktifitas dalam kehidupan sehari - hari hanya untuk Allah dan sesuai dengan perintah yang telah diperintahkan dan menghindari larangan yang telah diharamkan oleh Allah.


Belajar dan Memahami Tauhid dengan Benar


Secara peninjauan pada sisi akidah, tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat. Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Seperti yang terdapat pada Al Ankabut:61,


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ


“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”.


Orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu,
Namun Rasulullah  صلى ا لله عليه وسلم dan para sahabat mendapat perlawanan dari mereka dikarenakan mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.


Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam semua bentuk peribadatan baik yang zhahir maupun yang batin. Ayat yang sering sekali kita baca, yaitu pada Al Fatihah:5


إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ


“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan”


Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, shodaqoh, zakat, haji. Termasuk ibadah juga berdoa, bekerja, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain.


Pada An Nahl: 36, Allah Ta’ala berfirman:


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap umat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘”


Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang ditetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya yang ada pada A’raf: 180, Allah Ta’ala berfirman:


وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya”


Tauhid ini bermakna tidak menolak nama atau sifat Allah serta tidak enggan sama sekali untuk menetapkan maknanya. Pemahaman yang sangat mendasar, yang dapat menjawab secara gamblang berbagai pertanyaan - pertanyaan yang sering diajukan terkait keberadaan, bentuk hingga kekuasaan yang tak ada batasnya dan tidak akan berkurang sedikitpun kekuatan dan kekuasaan sampai kapanpun. Sebagian besar telah ada dalam penjelasan Al-Ikhlas, bahwasannya Allah tak sama dengan apapun.


Dalam belajar tauhid haruslah berhati - hati, terlebih dengan makna - makna yang memang bertolak belakang dengan sifat - sifat Allah. Sebagai contoh, Allah menciptakan Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya, bukan untuk menyatakan tempat keberadaan. Hati - hati, larangan keras untuk menyamakan Allah dengan makhluk. Hati - hati pula dalam memahami ayat - ayat Allah.


Selain contoh di atas, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menyatakan Dia yang sudah ada sebelum waktu dan tempat ada, maka tak layak ditanya Dia berada di mana. Allah suci dari 6 arah, Dia dekat tak bersentuh, Dia jauh tak berantara. Kalau Allah dapat ditunjuk di mana Allah berada, maka jelas hal ini layaknya menentang pada bahasan Al Ikhlas, karena sungguh Allah tidak setara dengan apapun, berbeda halnya seperti yang telah diungkapkan 4 imam, bahwasannya Allah berada di atas langit, di atas arsy, di atas seluruh makhluk ciptaanNya. Cukup kita imani seperti 4 imam tersebut, iman merupakan meyakini, sementara segala yang terkait dengan Allah hanya Allah yang memahaminya. Manusia dengan segala keterbatasannya cukuplah untuk mengimani apa yang telah Allah perintahkan untuk mengimani tanpa perlu menanyakan banyak hal, terlebih dengan ayat - ayat yang mutasyabihat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Setelah Shalat

Bahaya Riba Bagi Masyarakat