Bahaya Riba Bagi Masyarakat

Pada hakikatnya bahaya riba ini akan membuat hati menjadi keras dan jauh dari kebaikan dikarenakan bila terbiasa dengan perilaku ini akan terbiasa juga untuk mengeluarkan harta dalam bermasyarakat hanya dengan adanya syarat. Selain itu, bahaya riba bagi masyarakat juga akan terasa kepada orang yang terbebani dan sangat jelas terjadi kezhaliman pada transaksi yang dilarang keras oleh Allah. Allah telah mengancam dalam surat Ibrahim:42, yang artinya:

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Alah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.



Allah maha pengampun, tapi azab Allah juga sangat pedih!!! Pada artikel sebelumnya yang membahas mengenai bahaya ghibah dan perlu diketahui bahwa dosa ghibah jauh lebih besar dari dosa riba. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ath-Thabrani bahwasannya sebagai berikut:
الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه
“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya.”

Perbuatan yang lebih hina dari riba ini jelas akan merusak amal karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim. Diriwayatkan At-Tirmidzi no. 2509, Nabi muhammad صلى_الله_عليه_وسلم bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?”.Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)”.
هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ
“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama”.


Walaupun dosa riba lebih kecil dibanding dosa ghibah, namun tetap saja, menjauhi apa yang dilarang oleh Allah sangatlah utama dan yang terbaik dibanding harus menerima siksa, karena sungguh siksa Allah yang paling ringan itu sungguh amat sangat pedih. Allah dalam firmannya pada Al Baqarah [2]: 275
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itudisebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Allah juga berfirman, pada Al Baqarah [2]: 276
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
Dalam surat lain Ali Imron [3]: 130, Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.”

Dari hadist Ahmad dan Al-Baihaqi, Rasulullah صلى_الله_عليه_وسلم bersabda:
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.”

Sedangkan, untuk pemberian hadiah setelah hutang, beberapa ulama memiliki perbedaan pendapat. Dinukil dari Hasyiyah Ibnul Qayyim Ala Sunan Abi Dawud, 9/296 yakni

فَكَانَ رَدّ عُمَر لَمَّا تَوَهَّمَ أَنْ تَكُون هَدِيَّته بِسَبَبِ الْقَرْض فَلَمَّا تَيَقَّنَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِسَبَبِ الْقَرْض قَبِلَهَا وَهَذَا فَصْل النِّزَاع فِي مَسْأَلَة هَدِيَّة الْمُقْتَرِض
“Umar menolak hadiah dari Ubay karena beliau menyangka hadiah tersebut diberikan karena sebab hutang yang ia berikan kepada Ubay. Namun ketika ia yakin hadiah tersebut bukan karena sebab hutang, beliau menerima hadiah tersebut. Maka inilah patokan utama dari masalah hadiah dari penghutang kepada yang menghutangi”

Pada intinya adalah lebih baik untuk menjauhi suatu pemberian yang itu terkait dengan transaksi hutang. Namun bila jelas sangat diyakini bahwa pemberian hadiah itu tidak terkait dengan hutang maka beberapa imam dan ulama terdapat berbeda perbedaan mengenai hal ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Belajar Tauhid

Salam Setelah Shalat